Ayyuhal Walad16. Wahai Anakku! Hatim Al-Ashom ra. Belajar 30 Tahun, 8 Inti yang Diperolehnya
أَيُّهَا الْوَلَدُ، إِذَا عَمِلْتَ بِهَذَا الْحَدِيثِ … لَا حَاجَةَ لَكَ إِلَى الْعِلْمِ الْكَثِيرِ. (١) وَتَأَمَّلْ فِي حِكَايَةٍ أُخْرَى. وَهِيَ: أَنَّ حَاتِمَ الْأَصَمَّ -رَحِمَهُ اللَّهُ- كَانَ مِنْ أَصْحَابِ شَقِيقِ الْبَلْخِيِّ -رَحِمَهُ اللَّهُ- ثَلَاثِينَ سَنَةً
Wahai Anak, apabila engkau mengamalkan hadits ini …(hadis di nasehat 15), maka engkau tidak membutuhkan ilmu yang terlalu banyak. (1) Perhatikan juga sebuah kisah lain: Bahwa Hatim Al-Ashom -raḥimahullāh- adalah sahabat (nyantri kepada) Shaqīq al-Balkhī -raḥimahullāh- selama tiga puluh tahun.
فَسَأَلَهُ يَوْمًا وَقَالَ: صَاحَبْتَنِي مُنْذُ ثَلَاثِينَ سَنَةً، فَمَا حَاصِلُكَ فِيهَا؟
Pada suatu hari, Shaqīq bertanya kepadanya: “Engkau telah bersamaku selama tiga puluh tahun, apa yang telah engkau peroleh selama waktu itu?”
قَالَ: حَصَّلْتُ ثَمَانِيَ فَوَائِدَ مِنَ الْعِلْمِ، وَهِيَ تَكْفِينِي؛ لِأَنِّي أَرْجُو خَلَاصِي وَنَجَاتِي بِهَا
فَقَالَ شَقِيقٌ: مَا هِيَ؟
Hatim Al-Ashom ra. menjawab: “Aku telah memperoleh delapan pelajaran dari ilmu, dan itu sudah cukup bagiku, karena aku berharap selamat dan berhasil dengannya.”
Shaqīq berkata: “Apa saja pelajaran itu?”
:الفائدةُ الأولى
أَنِّي نَظَرْتُ إِلَى الْخَلْقِ، فَرَأَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ يُحِبُّ مَحْبُوبًا وَيَعْشَقُهُ. فَبَعْضُهُمْ يُصَاحِبُهُ إِلَى مَرَضِ الْمَوْتِ، وَبَعْضُهُمْ يُصَاحِبُهُ إِلَى شَفِيرِ الْقَبْرِ، ثُمَّ يَرْجِعُ كُلُّهُمْ وَيَتْرُكُهُ فَرِيدًا وَحِيدًا
فَتَفَكَّرْتُ وَقُلْتُ: أَفْضَلُ مَحْبُوبِ الْمَرْءِ مَا يَدْخُلُ مَعَهُ فِي قَبْرِهِ وَيُؤْنِسُهُ فِيهِ، فَمَا وَجَدْتُهُ إِلَّا الْأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ. فَأَخَذْتُهَا مَحْبُوبًا لِي؛ لِتَكُونَ سِرَاجًا فِي قَبْرِي، وَتُؤْنِسَنِي فِيهِ وَلَا تَتْرُكَنِي فَرِيدًا
Pelajaran Pertama:
Aku memperhatikan makhluk dan melihat bahwa setiap orang mencintai sesuatu yang mereka sukai dan kagumi. Sebagian dari mereka tetap bersama yang dicintainya hingga saat kematian, sementara yang lain hanya menemani sampai tepi kubur, kemudian semuanya akan pergi dan meninggalkannya sendirian.
Lalu aku merenung dan berkata, “Cinta terbaik bagi manusia adalah apa yang masuk bersamanya ke dalam kubur dan menemaninya di sana. Dan aku tidak menemukan itu kecuali amal-amal saleh. Maka aku menjadikan amal-amal itu kekasihku agar menjadi penerang di dalam kuburku, menemaniku, dan tidak meninggalkanku sendirian.”
:الفائدةُ الثانية
أَنِّي رَأَيْتُ الْخَلْقَ يَقْتَدُونَ أَهْوَاءَهُمْ، وَيُبَادِرُونَ إِلَى مُرَادَاتِ أَنْفُسِهِمْ. فَتَأَمَّلْتُ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ، وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ، فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ [النازعات: 40-41]. فَتَيَقَّنْتُ أَنَّ الْقُرْآنَ حَقٌّ. فَبَادَرْتُ إِلَى خِلَافِ نَفْسِي، وَتَشَمَّرْتُ لِمُجَاهَدَتِهَا، وَمَا مَتَّعْتُهَا بِهَوَاهَا حَتَّى ارْتَاضَتْ لِطَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى، وَانْقَادَتْ لَهَا.
Pelajaran Kedua:
Aku melihat manusia mengikuti hawa nafsunya dan segera memenuhi keinginan dirinya.
Aku merenungkan firman Allah Ta’ala: وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ (An-Nazi’at: 40-41).
Aku yakin bahwa Al-Qur’an adalah benar. Maka aku segera menentang diriku sendiri, berusaha mengendalikan hawa nafsuku, dan tidak membiarkan diriku mengikuti keinginannya hingga nafsu ridla dan tunduk kepada ketaatan kepada Allah Ta’ala.
الفائدةُ الثالثة
أَنِّي رَأَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مِنَ النَّاسِ يَسْعَى فِي جَمْعِ حُطَامِ الدُّنْيَا، ثُمَّ يُمْسِكُهُ قَابِضًا يَدَهُ. فَتَأَمَّلْتُ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى مَا عِندَكُمْ يَنْفَدُ، وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ [النحل: 96]
فَبَذَلْتُ مَحْصُولِي مِنَ الدُّنْيَا لِوَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى، فَفَرَّقْتُهُ بَيْنَ الْمَسَاكِينِ؛ لِيَكُونَ ذُخْرًا لِي عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى.
Pelajaran Ketiga:
Aku melihat setiap orang sibuk mengumpulkan harta dunia, lalu menggenggamnya dengan erat.
Aku merenungkan firman Allah Ta’ala: مَا عِندَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ (An-Nahl: 96).
Maka aku pun memberikan apa yang aku miliki di dunia ini di jalan Allah Ta’ala, aku membagikannya kepada orang-orang miskin agar menjadi tabungan bagiku di sisi Allah Ta’ala.
الفائدةُ الرابعة:
أَنِّي رَأَيْتُ بَعْضَ الْخَلْقِ يَظُنُّ أَنَّ الشَّرَفَ وَالْعِزَّ فِي كَثْرَةِ الْأَقْوَامِ وَالْعَشَائِرِ، فَأَعْتَزُّ بِهِمْ. وَزَعَمَ آخَرُونَ أَنَّهُ فِي ثَرْوَةِ الْأَمْوَالِ وَكَثْرَةِ الْأَوْلَادِ، فَافْتَخَرُوا بِهَا. وَحَسِبَ بَعْضُهُمْ أَنَّ الْعِزَّ وَالشَّرَفَ فِي غَصْبِ أَمْوَالِ النَّاسِ وَظُلْمِهِمْ وَسَفْكِ دِمَائِهِمْ. فَتَأَمَّلْتُ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ [الحجرات: 13]. فَاخْتَرْتُ التَّقْوَى، وَاعْتَقَدْتُ أَنَّ الْقُرْآنَ حَقٌّ، وَظَنُّهُمْ وَحِسْبَانُهُمْ كُلُّهُ بَاطِلٌ.
Pelajaran Keempat:
Aku melihat sebagian orang mengira bahwa kehormatan dan kemuliaan terletak pada banyaknya suku dan kerabat, sehingga mereka membanggakan hal itu. Sebagian lain mengira kehormatan ada pada harta kekayaan dan banyaknya anak, sehingga mereka membanggakannya. Ada juga yang mengira kemuliaan ada pada merampas harta orang lain, menzalimi mereka, dan menumpahkan darah mereka. Aku merenungkan firman Allah Ta’ala: إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ (Al-Hujurat: 13). Maka aku memilih takwa dan meyakini bahwa Al-Qur’an adalah benar, sedangkan prasangka mereka seluruhnya salah.
الفائدةُ الخامسة:
أَنِّي رَأَيْتُ النَّاسَ يَذُمُّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا، وَيَغْتَابُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا، فَوَجَدْتُ ذَلِكَ مِنَ الْحَسَدِ فِي الْمَالِ وَالْجَاهِ. فَتَأَمَّلْتُ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا [الزخرف: 32]. فَعَلِمْتُ أَنَّ الْقِسْمَةَ كَانَتْ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى فِي الْأَزَلِ، فَمَا حَسَدْتُ أَحَدًا، وَرَضِيتُ بِقِسْمَةِ اللَّهِ.
Pelajaran Kelima:
Aku melihat manusia saling mencela dan menggunjing satu sama lain. Aku dapati itu disebabkan oleh kedengkian terhadap harta dan kehormatan. Aku merenungkan firman Allah Ta’ala: نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا (Az-Zukhruf: 32). Aku menyadari bahwa pembagian itu telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala sejak zaman azali. Maka aku tidak lagi dengki kepada siapa pun dan ridha dengan ketetapan Allah.
الفائدةُ السادسة
أَنِّي رَأَيْتُ النَّاسَ يُعَادِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا لِغَرَضٍ وَسَبَبٍ. فَتَأَمَّلْتُ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا [فاطر: 6]. فَعَلِمْتُ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ عَدَاوَةُ أَحَدٍ غَيْرَ الشَّيْطَانِ، فَاتَّخَذْتُهُ عَدُوًّا، وَتَرَكْتُ غَيْرَهُ.
Pelajaran Keenam:
Aku melihat manusia saling bermusuhan satu sama lain karena alasan tertentu. Aku merenungkan firman Allah Ta’ala: إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا (Fatir: 6). Aku memahami bahwa tidak boleh memusuhi siapa pun selain setan. Maka aku menjadikannya musuhku dan meninggalkan permusuhan dengan selainnya.
الفائدةُ السابعة
أَنِّي رَأَيْتُ كُلَّ أَحَدٍ يَسْعَى جَادًّا لِطَلَبِ الْمَعَاشِ حَتَّى يَقَعَ فِي شُبْهَةٍ وَحَرَامٍ، وَيُذِلُّ نَفْسَهُ. فَتَأَمَّلْتُ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا [هود: 6]. فَعَلِمْتُ أَنَّ رِزْقِي عَلَى اللَّهِ، فَاشْتَغَلْتُ بِعِبَادَتِهِ، وَقَطَعْتُ طَمَعِي عَنْ غَيْرِهِ.
Pelajaran Ketujuh:
Aku melihat setiap orang bekerja keras mencari penghidupan hingga terjatuh ke dalam syubhat dan hal yang haram, serta merendahkan dirinya. Aku merenungkan firman Allah Ta’ala: وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا (Hud: 6). Aku yakin bahwa rezekiku ada di tangan Allah, maka aku pun sibuk beribadah kepada-Nya dan tidak lagi berharap kepada selain-Nya.
الفائدةُ الثامنة
أَنِّي رَأَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ يَعْتَمِدُ عَلَى شَيْءٍ مَخْلُوقٍ: بَعْضُهُمْ عَلَى الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ، (٢) وَبَعْضُهُمْ عَلَى الْمَالِ، وَبَعْضُهُمْ عَلَى الْحِرْفَةِ. فَتَأَمَّلْتُ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ [الطلاق: 3]. فَتَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ.
Pelajaran Kedelapan:
Aku melihat setiap orang bergantung kepada sesuatu yang diciptakan: sebagian kepada dinar dan dirham, sebagian kepada harta, sebagian lagi kepada pekerjaan. Aku merenungkan firman Allah Ta’ala: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ (At-Talaq: 3). Maka aku pun bertawakal hanya kepada Allah.
فَقَالَ شَقِيقٌ: وَفَّقَكَ اللَّهُ، إِنِّي نَظَرْتُ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَالزَّبُورَ وَالْفُرْقَانَ، فَوَجَدْتُهَا تَدُورُ عَلَى هَذِهِ الْفَوَائِدِ الثَّمَانِيَةِ، فَمَنْ عَمِلَ بِهَا كَانَ عَامِلًا بِهَذِهِ الْكُتُبِ الْأَرْبَعَةِ. (٣)
Shaqīq al-Balkhī -raḥimahullāh- berkata: “Semoga Allah memberimu taufik. Aku telah mempelajari Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an, dan aku mendapati semuanya berpusat pada delapan pelajaran ini. Barang siapa mengamalkannya, maka ia telah mengamalkan isi keempat kitab tersebut.”
—
Footnote:
1. Dalam (A, B) terdapat tambahan: **(karena ilmu yang banyak dan mempelajarinya adalah bagian dari fardhu kifayah).**
2. Begitulah yang terdapat di semua naskah, termasuk yang sesudahnya. Kemungkinan kata kerja ini mengandung makna **(bergantung kepada)**, dan Allah lebih mengetahui.
3. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Asakir dalam *Tārīkh Dimashq* (23/142), dan Abu Nu’aim dalam *Ḥilyat al-Awliyā’* (8/79) dalam bentuk yang ringkas.
Tidak ada komentar
