LD-NUKriteria Mendalam Hakikat Tawadhu’ || Pengajian Rais Syuriah MWC NU Kapanewon Berbah
Berbah, Sleman – Pada Senin malam, 30 Desember 2024, Rais Syuriah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kapanewon Berbah menyampaikan pengajian Syarah Al-Hikam Hikmah ke-205 bagian kedua di Majelis Ya Badi’, Kalitirto, Berbah. Pengajian ini menggali makna hakiki dari sifat tawadhu’ berdasarkan pandangan Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari.
Dalam pengajian tersebut, Rais Syuriah menjelaskan kalam Syekh Ibnu Atha’illah:
(لَيْسَ الْمُتَوَاضِعُ الَّذِي إِذَا تَوَاضَعَ رَأَى أَنَّهُ فَوْقَ مَا صَنَعَ، وَلَكِنَّ الْمُتَوَاضِعَ الَّذِي إِذَا تَوَاضَعَ رَأَى أَنَّهُ دُونَ مَا صَنَعَ)
“Orang yang tawadhu’ bukanlah orang yang merasa dirinya lebih tinggi dari apa yang dia lakukan ketika bersikap tawadhu’, tetapi tawadhu’ yang sejati adalah orang yang merasa dirinya lebih rendah dari apa yang dia lakukan.”
Rekaman video pengajian tersebut sebagai berikut:
