• Website Resmi MWC NU Kapanewon Berbah
Kamis Pon, 03 September 2026
Waktu Sholat di

Al-Hikam
002. Hikmah 2: Hati-Hati Saat Ingin Ibadah Lebih Tinggi dengan Syahwat yang Tersembunyi

002. Hikmah 2: Hati-Hati Saat Ingin Ibadah Lebih Tinggi dengan Syahwat yang Tersembunyi
Bagikan

Bismillahirrahmanirrahim

Syaikh Ibn ‘Atha’illah rodhiyallohu anhu berkata:

اِرَادَاتُكَ التَّجْرِيْدَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ, وَاِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيْدِ اِنْحِطَاطٌ عَنِ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ

“Keinginanmu untuk memilih keadaan tanpa melakukan sebab-sebab atau tajrid sementara Allah telah menempatkanmu dalam keadaan dengan sebab atau asbab, adalah bentuk nafsu syahwat yang samar. Sebaliknya, keinginanmu untuk memilih keadaan dengan sebab (asbab), sementara Allah telah menempatkanmu dalam keadaan tanpa sebab atau tajrid adalah bentuk kemunduran dari himmah atau cita-cita yang tinggi.”

Syaikh Ibnu Abbad menjelaskan bahwa sebab (asbab) di sini adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu di dunia.

Tanpa sebab (tajrid) adalah tidak menyibukkan diri dengan hal-hal duniawi.

Barang siapa yang Allah tetapkan dalam keadaan dengan sebab (tajrid) dan ia ingin keluar darinya, maka itu termasuk syahwat tersembunyi. Disebut syahwat karena ia tidak berdiam tenang dalam kehendak Allah dan malah menginginkan yang sebaliknya. Syahwat ini tersembunyi karena ia tidak bertujuan mendapatkan kesenangan duniawi, melainkan mengira bahwa ia ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan berada dalam keadaan yang lebih tinggi menurut pandangannya. Akan tetapi, ia melewatkan adab karena tidak mengikuti kehendak Allah yang telah menempatkannya dalam keadaan tersebut.

Tanda bahwa Allah menempatkannya dalam keadaan dengan sebab adalah ketika ia tetap sibuk dengan sebab itu, dan ia mendapatkan hasilnya. Keadaan ini ditandai dengan keberlangsungan agamanya yang baik, terbebas dari ketergantungan kepada makhluk, niat yang baik dalam menyambung tali silaturahmi, membantu fakir miskin, atau manfaat-manfaat lain yang terkait dengan harta.

Barang siapa yang Allah tetapkan dalam keadaan tanpa sebab (tajrid) dan ia ingin beralih ke keadaan dengan sebab (asbab), maka itu adalah tanda kemunduran dari derajat tinggi dan bentuk adab yang buruk. Keinginannya tersebut menunjukkan bahwa ia masih terikat pada syahwat yang nyata. Tajrid adalah kedudukan yang mulia, yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih dari kalangan orang-orang yang mengesakan Allah dan mengenal-Nya. Jika Allah telah menempatkan seseorang di kedudukan para hamba pilihan, mengapa ia malah menurunkan derajatnya ke tingkatan orang-orang yang memiliki kekurangan?

Syekh Abu Abdillah Al-Qurasyi r.a. berkata: Barang siapa yang tidak merasa malu untuk berbagi ketergantungan pada sebab-sebab dengan sekutu-sekutu, maka dia adalah orang yang rendah cita-citanya.”

Tanda bahwa Allah menempatkannya dalam keadaan tanpa sebab (tajrid) adalah dengan adanya keberlangsungan dalam keadaannya serta tercapainya hasil dari tajrid tersebut. Di antara buah dari tajrid adalah kebeningan ketika tidak bergantung pada sebab, kejernihan hatinya, dan kenyamanannya ketika mempunyai keterikatan atau bergaul dengan makhluk.

Cita-cita (himmah) adalah kondisi hati berupa kekuatan kehendak dan dorongan yang kuat untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Cita-cita bisa tinggi jika berhubungan dengan hal-hal mulia, atau rendah jika berhubungan dengan hal-hal hina.

Seorang penyair berkata:
“Ketika seseorang bertanya, mengapa engkau diliputi kegelisahan padahal urusanmu terpenuhi oleh umat manusia?
Aku menjawab, Biarkan aku dalam keadaanku, karena kegelisahan itu sesuai dengan tingginya cita-cita.”

Penyair lain berkata:
“Jika tangan orang hina tidak dapat memuaskan dahagamu,
Cukuplah sikap puas diri sebagai penenang dan pemenuh kebutuhan.
Jadilah seseorang yang kakinya berada di tanah,
Namun cita-citanya menjulang ke bintang-bintang.”

Apa yang dijelaskan tentang makna ketetapan Allah dalam keadaan dengan sebab atau tanpa sebab (tajrid) adalah sesuatu yang dipahami dari perkataannya setelah ini:
“Di antara tanda bahwa Allah menetapkanmu dalam suatu keadaan adalah keberlangsunganmu di dalamnya, disertai tercapainya hasil.”
Wallahu A’lam.

Dalam kitab “At-Tanwir” disebutkan permasalahan ini, berikut  secara lengkap sebagaimana dinukil dari kitab ini:

“Ketahuilah wahai saudara, semoga Allah merahmatimu, bahwa kebiasaan musuh adalah mendatangi seseorang pada keadaan yang Allah telah menetapkan dia di dalamnya, kemudian membuat keadaan tersebut terlihat hina di matanya sehingga ia menginginkan keadaan lain dari apa yang Allah tetapkan baginya. Hal ini akan mengacaukan hatinya dan merusak waktunya.

Musuh (syaitan) akan datang kepada orang-orang yang terikat dengan sebab-sebab (asbab) dan berkata: ‘Seandainya kalian meninggalkan sebab-sebab ini dan memilih jalan tajrid, niscaya cahaya akan memancar kepada kalian, hati dan sir kalian akan menjadi jernih.’ Setan juga akan mengatakan: ‘Begitulah yang dilakukan oleh si fulan dan si fulan.’

Padahal orang tersebut tidak dimaksudkan untuk berada dalam tajrid dan tidak memiliki kemampuan untuk itu. Sesungguhnya kebaikannya terletak pada berada dalam asbab. Ketika ia meninggalkan asbab, imannya menjadi goyah, keyakinannya hilang, ia berpaling kepada permintaan kepada makhluk, sibuk dengan masalah rezeki, dan akhirnya terjatuh ke dalam jurang keterputusan (dari Allah). Ini adalah tujuan syaitan darinya.

Syaitan datang dengan tampilan seorang penasihat, sebagaimana ia mendatangi kedua orang tua kita (Adam dan Hawa alaihimassalam) dan berkata sebagaimana dikisahkan oleh Allah: “Tuhanmu tidak melarangmu dari pohon ini kecuali agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau menjadi kekal.” Dan ia bersumpah kepada mereka: ‘Sesungguhnya aku adalah penasihat yang setia untuk kalian berdua.’ (Dalam Qur’an surat Al-A’raf: 20-21).

Demikian pula, syaitan mendatangi orang-orang yang berada dalam tajrid dan berkata: ‘Sampai kapan kalian meninggalkan sebab-sebab? Tidakkah kalian tahu bahwa meninggalkan sebab-sebab membuat hati tergantung pada apa yang ada di tangan manusia, membuka pintu ketamakan, dan menghalangi kalian dari memberi, mendahulukan orang lain, serta memenuhi hak-hak mereka?’

Orang yang berada dalam tajrid tersebut sebenarnya telah menikmati waktu yang baik, cahaya hatinya meluas, dan ia merasakan kenyamanan dengan memutus hubungan dari makhluk. Namun syaitan terus menggoda hingga ia kembali kepada asbab, yang kemudian membebani dirinya dengan kesulitan dan kegelapan asbab. Akhirnya, orang yang terus berada dalam asbab menjadi lebih baik darinya, karena ia telah meninggalkan jalan yang ditempuh sebelumnya dan kembali mundur dari tujuan yang ia tetapkan sebelumnya.

Maka pahamilah dan berlindunglah kepada Allah. Barangsiapa yang berlindung kepada Allah, ia akan diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Syaitan hanya bermaksud untuk mencegah hamba dari ridha terhadap ketetapan Allah atas mereka, dan membawa mereka keluar dari apa yang Allah pilihkan kepada mereka menuju apa yang mereka pilih sendiri. Apa yang Allah masukkan dirimu ke dalamnya, Dia akan menolongmu di dalamnya. Namun, jika kamu masuk ke dalam sesuatu atas kehendakmu sendiri, Allah akan menyerahkanmu kepada dirimu sendiri.

Berdoalah: Ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat dan keadaan apa saja dengan cara yang benar, keluarkan pula aku dengan cara yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolongku.”

Masuk yang benar adalah masuk dengan tawakkal kepada Allah, bukan dengan mengandalkan dirimu sendiri, dan keluar yang benar juga demikian. Maka pahamilah hal ini.

Yang dikehendaki oleh Allah darimu adalah agar kamu tetap berada di tempat yang Allah telah menempatkanmu, hingga Allah sendiri yang mengeluarkanmu sebagaimana Dia telah memasukkanmu ke dalamnya. Perkaranya bukanlah tentang meninggalkan sebab-sebab, tetapi agar sebab-sebab meninggalkanmu.”

Seorang ulama berkata: “Aku telah meninggalkan asbab beberapa kali, tetapi aku kembali kepada sebab lagi. Lalu asbab meninggalkanku, dan aku tidak pernah kembali lagi kepadanya.”

Aku masuk menemui seorang syekh, semoga Allah meridainya, dengan niat di dalam hatiku untuk menjalani tajrid (melepas sebab), sambil berkata dalam diriku, “Mencapai Allah dalam keadaan asbab terasa sulit, karena aku sibuk dengan ilmu-ilmu lahiriah dan berinteraksi dengan banyak orang.”

Tanpa aku bertanya, syekh itu berkata: “Ada seseorang yang menyertaiku, dia sibuk dengan ilmu-ilmu lahiriah dan menjadi orang yang terkemuka dalam bidang tersebut. Karenanya dia merasakan hanya sedikit dari jalan tasawuf ini, lalu datang kepadaku dan berkata: ‘Wahai tuanku, bolehkah aku meninggalkan apa yang aku geluti dan sepenuhnya fokus menyertaimu?’

Aku menjawab: “Ini bukan masalahnya. Tetaplah di tempatmu, dan apa yang Allah telah tetapkan bagimu melalui kami pasti akan sampai kepadamu.”

Kemudian syekh itu berkata sambil memandangku: “Inilah jalan para siddiqin yaitu orang-orang yang benar. Mereka tidak meninggalkan sesuatu hingga Allah sendiri yang mengeluarkan mereka darinya.”

Aku keluar dari tempat syekh tersebut dengan perasaan bahwa Allah telah menghapuskan niat-niat dalam hatiku itu. Aku merasakan ketenangan dalam menyerahkan urusan kepada Allah.

Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda: “Mereka adalah kaum yang keberadaannya membuat siapa pun yang duduk bersama mereka tidak akan celaka.”

begitulah kutipan dari kitab At-Tanwir tentang makna ini.

Pembahasan Tajrid dan asbab dalam kitan At-Tanwir adalah pembahasan yang sangat baik, dan kami mencatatnya di sini secara lengkap karena penulis dengan sangat jelas menjelaskan persoalan yang dibahas dalam kitab ini.

Kami berharap agar semua persoalan dalam kitab ini dapat dijelaskan dengan cara seperti ini.

Wallahu A’lam.

Sebelumnya001. Wisdom 1: Signs Do Not Depend on Allah SWTSesudahnya002. Wisdom 2: Beware When Seeking Higher Acts of Worship — The Hidden Desires Within
Tidak ada komentar

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *