BeritaMWC NU Berbah Gelar Kajian Ramadhan ke-11: “Memutus Bisikan Setan dan Menghijaukan Hati”
Berbah, Sleman – Dalam rangka mengisi bulan suci Ramadhan 1446 H, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kapanewon Berbah kembali menggelar pengajian rutin. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Rais Syuriah MWC NU Berbah dan bertempat di Majelis Ya Badi’, Kampung Cangakan, Baran, Kalitirto, Berbah, Sleman, DIY.
Pada pertemuan ke-11, kajian difokuskan pada dua tema utama: Memutus Bisikan Setan dan Menghijaukan Hati.
Memutus Bisikan Setan
Dalam kajian ini, dipaparkan firman Allah dalam Surah Fussilat ayat 36 yang menekankan pentingnya berlindung kepada Allah dari godaan setan. Dijelaskan bahwa bisikan setan bisa berkembang menjadi pikiran, lalu menjadi tekad, dan akhirnya menjadi perbuatan jika tidak segera dihentikan.
Mengutip tafsir Imam Al-Qusyairi, dijelaskan bahwa seseorang hanya bisa terbebas dari bisikan setan dengan memohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah secara tulus. Dengan demikian, Allah akan semakin melindunginya dari pengaruh setan.
[[Surah Fussilat (41): Ayat 36]]
وَاِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطٰنِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ٣٦
Jika setan sungguh-sungguh menggodamu dengan halus (untuk meninggalkan perilaku baik itu), maka berlindunglah kepada Allah! Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
إِذَا اتَّصَلَتْ بِقَلْبِكَ نَزَغَاتُ الشَّيْطَانِ فَبَادِرْ بِذِكْرِ رَبِّكَ، وَارْجِعْ إِلَيْهِ قَبْلَ أَيَّةِ خَطْوَةٍ «».
“Jika bisikan-bisikan setan menyusup ke dalam hatimu, segeralah berdzikir kepada Tuhanmu dan kembalilah kepada-Nya sebelum melangkah lebih jauh.”
فَإِنَّكَ إِنْ لَمْ تُخَالِفْ أَوَّلَ هَاجِسٍ مِنْ هَوَاجِسِ الشَّيْطَانِ صَارَ فِكْرَةً، ثُمَّ بَعْدَ ذَٰلِكَ يَحْصُلُ الْعَزْمُ عَلَى مَا يَدْعُو إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ.. فَإِذَا لَمْ تَتَدَارَكْ ذَٰلِكَ تَجْرِي الزَّلَّةُ،
“Karena jika kamu tidak menolak bisikan pertama dari setan, ia akan berkembang menjadi pikiran, lalu kemudian muncul tekad untuk melakukan apa yang diserukan oleh setan… Jika kamu tidak segera memperbaiki hal itu, kesalahan akan terjadi,
وَإِذَا لَمْ تَتَدَارَكْ ذَٰلِكَ بِحُسْنِ الرَّجْعَىٰ صَارَ فِسْقًا.. وَبِتَمَادِي الْوَقْتِ تُصْبِحُ فِي خَطَرِ كُلِّ آفَةٍ.
dan jika kamu tidak segera bertobat dengan baik, itu akan menjadi dosa besar… Dan seiring berjalannya waktu, kamu akan berada dalam bahaya segala macam bencana.”
وَلَا يَتَخَلَّصُ الْعَبْدُ مِنْ نَزَغَاتِ الشَّيْطَانِ إِلَّا بِصِدْقِ الِاسْتِعَانَةِ وَصِدْقِ الِاسْتِغَاثَةِ وَبِذَٰلِكَ يَنْجُو مِنَ الشَّيْطَانِ، وَقَدْ قَالَ تَعَالَى: «إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ».
“Dan seorang hamba tidak akan terbebas dari bisikan-bisikan setan kecuali dengan tulus memohon pertolongan dan tulus berdoa kepada Allah. Dengan cara itulah dia akan selamat dari setan, sebagaimana firman Allah: ‘Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu atas mereka.’”
فَكُلَّمَا ازْدَادَ الْعَبْدُ فِي تَبَرِّيهِ مِنْ حَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ «٣»، وَأَخْلَصَ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ بِتَضَرُّعِهِ وَاسْتِعَانَتِهِ وَاسْتِعَاذَتِهِ زَادَ اللَّهُ فِي حِفْظِهِ، وَدَفَعَ الشَّيْطَانَ عَنْهُ.
“Maka semakin seorang hamba melepaskan diri dari kekuatan dan kekuasaannya sendiri, dan semakin ikhlas dia berdoa, memohon pertolongan, dan berlindung kepada Allah, semakin Allah melipatgandakan perlindungan-Nya kepadanya, dan menjauhkan setan darinya.”
Menghijaukan Hati
Kajian berlanjut dengan pembahasan mengenai menghijaukan hati, merujuk pada Surah Fussilat ayat 39. Ayat ini menggambarkan bagaimana bumi yang kering menjadi subur setelah turun hujan, sebagaimana hati manusia yang dapat hidup kembali dengan keimanan setelah mengalami masa kering karena dosa dan kelalaian.
Tafsir Imam Al-Qusyairi menegaskan bahwa ketika hati seseorang tunduk karena menyadari kesalahan, Allah akan mendekatinya dan memberikan berkah berupa penyesalan serta ampunan. Jika seorang hamba mengalami kelemahan dalam ibadahnya, Allah akan membangkitkannya kembali melalui kesadaran dan pengingat, sehingga hati yang semula kering dapat kembali hijau dengan keimanan dan ketaatan.
[[Surah Fussilat (41): Ayat 39]]
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنَّكَ تَرَى الْاَرْضَ خَاشِعَةً فَاِذَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاۤءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْۗ اِنَّ الَّذِيْٓ اَحْيَاهَا لَمُحْيِ الْمَوْتٰىۗ اِنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ٣٩
Sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah bahwa engkau melihat bumi kering dan tandus, kemudian apabila Kami menurunkan air (hujan) padanya, ia pun hidup dan menjadi subur. Sesungguhnya Zat yang menghidupkannya pasti dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
الْأَرْضُ تَكُونُ جَدْبَةً يَابِسَةً فِي الشِّتَاءِ، فَإِذَا نَزَلَ عَلَيْهَا الْمَطَرُ اهْتَزَّتْ بِالنَّبَاتِ وَاخْضَرَّتْ. وَكَذَلِكَ الْقُلُوبُ إِذَا خَشَعَتْ لِاسْتِشْعَارِهَا بِمَا أَلَّمَتْ بِهِ مِنَ الذُّنُوبِ أَقْبَلَ عَلَيْهَا الْحَقُّ سُبْحَانَهُ، فَظَهَرَتْ فِيهَا بَرَكَاتُ النَّدَمِ، وَعَفَا عَنْ أَرْبَابِهَا مَا قَصَّرُوا فِي صِدْقِ الْقَدَمِ.
“Bumi menjadi kering dan tandus di musim dingin, tetapi ketika hujan turun, ia bergetar dan dipenuhi kehidupan dengan tumbuh-tumbuhan hijau. Demikian pula hati manusia; ketika hati itu tunduk karena menyadari dosa-dosa yang telah dilakukan, Allah Yang Mahasuci mendekatinya, sehingga muncul berkah penyesalan di dalamnya, dan Dia mengampuni pemiliknya atas kelalaian yang terjadi dalam langkah-langkah mereka menuju kebenaran.”
وَكَذَلِكَ إِذَا وَقَعَتْ لِلْعَبْدِ فَتْرَةٌ فِي مُعَامَلَاتِهِ، أَوْ غَيْبَةٌ عَنْ بِسَاطِ طَاعَاتِهِ، ثُمَّ تَغَمَّدَهُ الْحَقُّ- سُبْحَانَهُ- بِمَا يُدْخِلُ عَلَيْهِ مِنَ التَّذَكُّرِ تَظْهَرُ فِي الْقَلْبِ أَنْوَارُ الْوِفَاقِ، فَيَعُودُ إِلَى مَأْلُوفِ مَقَامِهِ، وَيَرْجِعُ عُودُ سَدَادِهِ غَضًّا طَرِيًّا، وَيَصِيرُ شَجَرُ وِفَاقِهِ- بَعْدَ مَا أَصَابَتْهُ الْجَدْبَةُ- بِمَاءِ الْعِنَايَةِ مُسْتَقِيًا.
“Demikian pula, jika seorang hamba mengalami masa jeda dalam hubungan spiritualnya atau menjauh dari karpet ketaatan, lalu Allah—Maha Suci Dia—menyelimutinya dengan kesadaran dan pengingat, maka cahaya keselarasan akan muncul di dalam hatinya. Ia kembali ke posisi yang dikenalnya, dan batang keyakinannya yang lurus tumbuh kembali segar dan baru. Pohon keselarasannya, yang sebelumnya dilanda kekeringan, kini disiram oleh air perhatian Ilahi.”
Wallohu A’lam
