• Website Resmi MWC NU Kapanewon Berbah
Kamis Pon, 03 September 2026
Waktu Sholat di

Al-Hikam
000. Mukaddimah Syarah Al-Hikam Al-Athaiyyah Syaikh Ibnu Abbad An-Nafazi Ar-Rundi

000. Mukaddimah Syarah Al-Hikam Al-Athaiyyah Syaikh Ibnu Abbad An-Nafazi Ar-Rundi
Bagikan

Nama Kitab:

Ghats al-Mawāhib al-‘Alīyah fī SYARH AL-HIKAM AL-‘AṬĀ’ĪYAH li Ibn Abbad an-Nafazī ar-Rundī, (Hujan Karunia Yang Luhur dalam Menjelaskan Al-Hikam Al-Athaiyyah)

Oleh Asy-Syaykh Abī ‘Abd Allah Muhammad ibn Ibrāhīm ibn Abbad an-Nafazī ar-Rundī (Wafat 792 H)

 

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

[Pendahuluan oleh Syaikh Ibnu Abbad An-Nafazi Ar-Rundi]
Berkata hamba yang fakir kepada Allah Ta’ala, yang hanya bersandar kepada Allah dalam memohon ampunan atas dosa-dosanya, Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah bin Ibrahim bin ‘Abbad An-Nafzi Ar-Rundi, semoga Allah melimpahkan kelembutan-Nya kepadanya:

Segala puji bagi Allah, Yang Maha Esa dalam keagungan dan keperkasaan, Yang Maha Tunggal dalam kelayakan untuk sifat-sifat kesempurnaan, Yang Maha Suci dari segala sekutu, tandingan, dan keserupaan, Yang Maha Kudus dari segala sifat kebaruan berupa perubahan, perpindahan, keterhubungan, maupun keterpisahan, Yang Maha Mengetahui segala yang gaib dan nyata, Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada junjungan kami, Nabi Muhammad, yang memberikan petunjuk (selamat) dari kesesatan, kepada keluarganya dan para sahabatnya yang amal-amalnya murni dan keadaan-keadaannya bersih, serta kepada semua yang mengikuti mereka dalam sifat-sifat terpuji dan akhlak mulia, dengan salam yang berlimpah.

Amma ba’du: Tatkala kami melihat kitab Al-Hikam yang dinisbatkan kepada Syekh Imam, ahli tahqiq, ‘arif, mukasyif, wali rabbani, Abu Al-Fadl Tajuddin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin ‘Athâ’illah As-Sakandari – semoga Allah meridainya dan memberikan manfaat kepada kami melalui dirinya – sebagai salah satu karya terbaik yang pernah ditulis dalam ilmu tauhid, dan sebagai rujukan agung yang menjadi perhatian setiap salik (penempuh jalan spiritual) dan murid (pencari ilmu spiritual). Kitab ini memiliki bentuk yang kecil tetapi penuh dengan ilmu yang besar. Ia memuat ungkapan-ungkapan yang indah dan makna-makna yang sangat tinggi, yang ditujukan untuk menjelaskan jalan para ‘arifin (orang-orang yang mengenal Allah) dan para muwahhidin (orang-orang yang mentauhidkan Allah), serta menampilkan metode para salikin (penempuh jalan spiritual) dan para tajarrudin (orang-orang yang melepaskan dunia).

Kami pun memulai menulis penjelasan yang berfungsi sebagai pengingat untuk sebagian makna-makna lahiriahnya, serta sebagai penyingkap pancaran dari cahaya-cahayanya yang gemilang. Kami sadar, kami tidak memiliki kemampuan untuk mengulas seluruh kandungan kitab ini maupun esensinya yang paling dalam, karena ucapan para wali dan ulama yang mengenal Allah mengandung rahasia-rahasia yang tersembunyi dan permata-permata hikmah yang tersimpan. Rahasia-rahasia itu hanya dapat dibuka oleh mereka sendiri dan hakikatnya hanya dapat dipahami melalui penerimaan langsung dari mereka.

Dalam kata-kata yang kami sampaikan ini, dan pendekatan yang kami ambil, kami tidak mengklaim bahwa penjelasan kami benar-benar mencerminkan maksud pengarang, sebagaimana yang sering dilakukan oleh penulis lainnya. Sebab, jika kami mengklaim demikian, maka itu adalah bentuk kurang adab dari kami yang dapat berujung, semoga Allah melindungi, pada kehancuran. Kami akan menjadi pihak yang menjerumuskan diri ke dalam bahaya dan mudarat dengan membahas sesuatu yang tidak pantas bagi kami, yakni menjelaskan ucapan para wali Allah Ta’ala tanpa rasa takut dan kehati-hatian.

Namun, kami hanya menyampaikan sesuai dengan pemahaman yang kami peroleh dari ucapan mereka.

Dan apa yang sampai kepada kami dari ilmu tentang mazhab mereka; jika pemahaman kami sesuai dengan hakikat yang sebenarnya dan kami menemukan rahasia yang tersembunyi, maka itu adalah nikmat yang tak mampu kami syukuri dengan sempurna, dan tak dapat kami nilai dengan ukuran apa pun. Namun, jika ternyata pemahaman kami berbeda dari itu dan kami tidak dapat menempuh jalan mereka, maka kami mengembalikan hal itu kepada kekurangan dan kebodohan kami sendiri. Dengan demikian, kami terbebas dari kesalahan akibat ucapan dan tindakan kami, dan hal itu terbatas hanya pada diri kami saja. Mereka pun terbebas dari tanggung jawab atas apa yang kami katakan dan niatkan.

Oleh karena itu, mengingat bahwa tujuan kami adalah untuk memperoleh keselamatan yang kami jadikan sandaran, sepatutnya kami memulai dengan menyajikan terlebih dahulu ulu teks ucapan pengarang – semoga Allah merahmatinya – secara lengkap. Kemudian, kami mengikutinya dengan penjelasan kami dalam bentuk narasi dan klaim. Dalam penjelasan itu, kami menggunakan ungkapan yang lebih sederhana dari ungkapannya, dan isyarat yang lebih jelas dari isyaratnya. Hal ini dimaksudkan agar apa yang kami sampaikan tentang tafsir dari apa yang ia sebutkan dapat dipahami, bukan sebagai tafsir sebenarnya dari maksudnya yang telah ditetapkan.

Kami juga akan menyisipkan di dalamnya berbagai hal yang menurut pandangan kami sesuai untuk ditambahkan sebagai penjelas, agar manfaatnya lebih lengkap dalam mencapai tujuan yang dimaksudkan. Jika kami menemukan dalam ucapannya pengulangan makna atau tumpang tindih antara cabang dan bangunan (struktur) yang ia paparkan, kami akan memberikan perhatian terhadapnya sebagai suatu kewajiban, serta merujuk sebagian dari pembahasannya kepada bagian lainnya.

Bagi penyalin kumpulan ini, hendaknya ia mengikuti apa yang telah kami atur, dengan menuliskan teks ucapan pengarang menggunakan warna yang berbeda dari warna teks tambahan kami. Atau, ia dapat menuliskannya dengan dua jenis pena yang berbeda dalam ketebalan dan kehalusan, dengan memberikan hak masing-masing sesuai dengan porsinya. Hal ini agar tujuan dalam menyusun manfaat dari rangkaian pembahasan menjadi lebih mudah tercapai.

Allah-lah yang memberikan taufik, tidak ada Tuhan selain Dia, dan tidak ada kebaikan kecuali berasal dari-Nya.

Dan yang mendorongku untuk menyusun kitab ini, serta memaksakan diri untuk menulis dan mengumpulkannya, setelah terlebih dahulu adanya kehendak Allah Ta’ala yang tidak dapat ditolak, dan takdir-Nya yang tidak dapat dihindari oleh seorang hamba, adalah pendapat yang kami lihat tentang tuntutan dan tujuan yang agung sebagaimana telah kami sebutkan di awal mukadimah ini. Ditambah lagi dengan desakan dari beberapa sahabat yang terus-menerus meminta hal itu kepadaku, karena keyakinan mereka yang tulus terhadap jalan ini, serta cinta murni mereka kepada para ahli hakikat.

Maka aku pun memenuhi permintaan mereka dan mewujudkan harapan mereka, sesuai dengan kehendak dan keputusan Allah Ta’ala yang tidak dapat diubah. Semoga Allah memberikan manfaat kepada kami dan mereka dengan apa yang terwujud melalui tangan kami ini, dan semoga Dia tidak menjadikannya sebagai hujjah yang memberatkan kami maupun mereka.

Kami memohon ampun kepada Allah Ta’ala atas tindakan kami dalam menangani urusan yang besar ini dan menyelami bahaya yang sangat berat. Kami juga berlindung kepada-Nya dari terjerumus ke dalam perangkap musuh yang terkutuk. Kami memohon taufik-Nya agar meneguhkan kami di jalan yang lurus, dan menjauhkan kami dari amal perbuatan yang membawa celaan atau penyesalan.

Kami juga berharap kepada-Nya, karena Dia telah menganugerahi kami keberuntungan untuk mengikuti mazhab mereka, bergabung dengan silsilah yang mulia dari mereka, berpegang pada ujung-ujung jubah mereka, dan berusaha meneladani jejak mereka. Allah juga telah menganugerahi kami sebagian dari penghormatan, cinta, penghargaan, dan kebaikan kepada mereka. Kami memohon agar Dia tidak menghalangi kami dari syafaat mereka, tidak mengeluarkan kami dari perlindungan mereka yang penuh kasih, tidak menjauhkan kami dari pintu mereka yang mulia, dan tidak memalingkan kami dari jalan mereka yang lurus.

Mereka adalah kaum yang siapa pun yang duduk bersama mereka tidak akan celaka:

“Aku memiliki para pemimpin, yang karena kemuliaannya,
Kaki mereka berada di atas kepala (dihormati dengan penuh penghormatan).
Jika aku bukan bagian dari mereka, maka cukuplah aku memiliki kemuliaan dan kebesaran dalam menyebut nama mereka.”

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dengan cinta kami kepada mereka. Sesungguhnya, mereka mencintai-Mu, dan mereka tidak akan mencintai-Mu kecuali karena Engkau mencintai mereka. Maka dengan cinta-Mu kepada mereka, mereka sampai kepada cinta-Mu. Sedangkan kami, tidaklah kami mencapai cinta kepada mereka karena-Mu kecuali karena keberuntungan kami dari-Mu. Maka sempurnakanlah hal itu bagi kami sampai kami bertemu dengan-Mu, wahai Yang Maha Pengasih di antara para pengasih.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad, penutup para nabi, kepada keluarganya yang suci dan murni, serta kepada para pengikutnya hingga hari kiamat. Semoga Allah memberikan salam yang banyak kepada mereka.

Dan inilah saatnya aku memulai, dengan mengandalkan pertolongan Allah. Hanya dari-Nya petunjuk menuju jalan yang lurus.

Sesudahnya000. Preamble The Rain of Gifts in Explaining Al-Hikam Al-Athaiyyah
Tidak ada komentar

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *