BeritaKhutbah Idul Fitri Rais Syuriah MWC NU Berbah: Urgensi Penyucian Jiwa dalam Menuju Pribadi Islam Rahmatan lil ‘Alamin
Berbah, Sleman – Suasana penuh khidmat menyelimuti Masjid Nurul Iman, Kaliajir Lor, Kalitirto, Berbah, pada Senin (31/3/2025) saat umat Islam melaksanakan Shalat Idul Fitri 1446 H. Bertindak sebagai imam dan khotib adalah KH. Lukman Ahmad Irfan, Rais Syuriah Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kapanewon Berbah.

Dalam momen ini, Rais Syuriah, yang juga Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kapanewon Berbah, menyampaikan khutbah Idul Fitri dengan tema Urgensi Penyucian Jiwa dalam Menuju Islam Rahmatan lil ‘Alamin.
Dalam khutbahnya, beliau mengawali dengan menegaskan bahwa Islam adalah agama kasih sayang bagi seluruh alam, sebagaimana termaktub dalam firman Allah:
وَمَاۤ أَرْسَلْنٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Oleh karena itu, tidak ada satu pun ajaran dalam Islam kecuali mengandung nilai rahmah (kasih sayang). Para ulama merumuskan nilai rahmah ini dalam enam maqashid syariah, yaitu:
-
Hifzhun Nafs (Menjaga nyawa)
-
Hifzhul Mal (Menjaga harta)
-
Hifzhul ‘Irdh (Menjaga harga diri)
-
Hifzhul ‘Aql (Menjaga akal)
-
Hifzhun Nasl (Menjaga keturunan)
-
Hifzhul Bi’ah (Menjaga kelestarian alam/lingkungan)
Lebih lanjut, Rais Syuriah MWC NU Berbah menekankan bahwa Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam dicontohkan oleh Rasulullah SAW melalui akhlakul karimah (akhlak yang luhur), sebagaimana firman Allah:
وَإِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4)

Meneladani Rasulullah SAW berarti berusaha mencapai tingkatan tertinggi dalam akhlakul karimah. Namun, akhlak yang mulia tidak akan terwujud tanpa terlebih dahulu membersihkan dan menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs).
Pentingnya Penyucian Jiwa
Beliau mengutip firman Allah tentang keutamaan menyucikan jiwa:
فَأَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَا
“Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 8-10)
Puasa Ramadan yang telah dijalankan merupakan bagian dari proses penyucian jiwa. Namun, penyucian jiwa tidak hanya dilakukan dalam bulan Ramadan, melainkan juga melalui amal ibadah lainnya, seperti shalat, zakat, sedekah, dan ibadah lainnya.

Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa zakat berfungsi untuk menyucikan jiwa:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka…” (QS. At-Taubah: 103)
Demikian pula shalat memiliki peran dalam penyucian jiwa, sebagaimana firman Allah:
إِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar…” (QS. Al-Ankabut: 45)
Perjuangan Sepanjang Hayat
Rais Syuriah MWC NU Berbah menutup khutbahnya dengan mengingatkan bahwa perjuangan untuk tetap berada dalam penyucian jiwa dan akhlakul karimah adalah dnegan berserah diri kepada Allah harus terus dilakukan hingga akhir hayat dengan jalan bertakwa, sebagaimana perintah Allah:
وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
“Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran: 102)

Namun, perjuangan ini tidak bisa dilakukan oleh mereka yang merasa dirinya sudah suci. Allah SWT mengingatkan:
فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)
Khutbah Idul Fitri ini mengingatkan seluruh jamaah bahwa Islam adalah agama kasih sayang, dan mencapai akhlak yang mulia memerlukan perjuangan dalam menyucikan jiwa sepanjang hayat dengan berserah diri kepada Allah SWT melalui ketakwaan.

Hal-hal di atas, secara praktis dapat dimulai dengan selalu belajar, tadabbur, dan tafakkur Al-Qur’an dengan mempelajari tafsirnya, “Sebaiknya belajar, tadabbur, dan tafakkur Al-Qur’an dilakukan tiap hari. Jangan sepikan masjid, musholla, rumah dari belajar Al-Qur’an. Kalau tidak bisa tiap hari paling tidak satu minggu sekali, atau selambat-lambanya tiap selapan sekali mempelajari, mentadabburi, mentafakkuri Al-Qur’an melalui tafsirnya,” tegas ketua DMI Berbah yang juga dosen UII ini.

Khutbah diakhiri dengan doa kepada Allah SWT.
Wallahu A’lam.
