BeritaPengarahan Rais Syuriah PCNU Sleman Untuk Pengurus NU dan Banom-banom NU di Sleman
Sleman, 15 Desember 2024 – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sleman menggelar Musyawarah Kerja (Musker) III di Pondok Pesantren Diponegoro, Sembego Maguwoharjo Depok Sleman. Acara ini dihadiri oleh para pengurus PCNU, Perwakilan MWC NU se Sleman, dan tokoh Nahdliyin dengan agenda penting menyusun langkah strategis organisasi ke depan.
Dalam arahannya, Rais Syuriah PCNU Sleman, Dr. KH. M. Syakir Ali, M.Si, mengingatkan bahwa Nahdlatul Ulama adalah organisasi agama yang harus kokoh berakar pada ajaran Islam. “Organisasi kita ini adalah organisasi agama. Maka, hendaklah kita jangan tercerabut dari akarnya, yaitu perjuangan agama Islam yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah,” tegasnya.
Beliau menekankan pentingnya menjadikan agama sebagai landasan dalam setiap aktivitas organisasi. “Hendaknya segala aspek kegiatan kita berpijak pada agama. Jangan sampai kita kehilangan pijakan utama kita,” imbuhnya.

Rais Syuriah juga memberikan perhatian khusus pada pentingnya bermahzab sebagai bagian dari tradisi keilmuan dalam Islam. Beliau, yang juga dosen di UIN Sunan Kalijaga ini menjelaskan bahwa dalam bermahzab, terdapat dua pendekatan penting:
- Taqlid kepada Imam Mazhab/Muhjathid, yaitu mengikuti salah satu dari empat imam mazhab (Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali) sebagai panduan dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama.
- Taqlid Ilmi kepada Imam Mazhab/Mujatahid, yaitu dengan mengikuti metodologi berijtihad yang telah dirumuskan oleh para imam mujtahid untuk menyelesaikan persoalan hukum sesuai dengan konteks zaman dan mengembangkan ilmu-ilmu agama lebih luas dan mendalam.
Selain itu, beliau yang juga pengasuh Pondok Pesantren Diponogoro ini menyerukan agar warga Nahdliyin menjauhi fitnah dan tindakan yang dapat merusak persatuan. “Hindarilah ahlul fitnah. Jangan sampai kita terjebak pada perilaku yang merugikan perjuangan kita,” katanya.
Beliau juga menyampaikan pentingnya berpegang teguh pada Sawadil A’dhom, sebagaimana dalam hadis:
أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ، فَإِذَا رَأَيْتُمُ اخْتِلَافًا فَعَلَيْكُمْ بالسواد الأعظم
“Umatku tidak akan berkumpul-sepakat dalam kesesatan. Karena itu, jika kslian melihat ada perbedaan (dalam beragama ini), maka kalian harus tetap pada al-sawad al-a’dham”.

Dalam konteks Nahdlatul Ulama (NU), sawadil a’zham diartikan sebagai kelompok mayoritas yang mengikuti Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). NU merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang menganut paham Aswaja.
Musker III ini diharapkan mampu memperkuat peran dan program PCNU Sleman agar tetap selaras dengan visi besar Aswaja An-Nahdliyah. Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk menguatkan komitmen dalam menjaga keutuhan ajaran Islam yang moderat dan bermanfaat bagi umat.
