• Website Resmi MWC NU Kapanewon Berbah
Selasa Legi, 01 September 2026
Waktu Sholat di

Kolom
Tirta Abadi Hayati Nusantara (01): Meletakkan Diri Setepatnya Dalam KeMahakuasaan Allah SWT

Tirta Abadi Hayati Nusantara (01): Meletakkan Diri Setepatnya Dalam KeMahakuasaan Allah SWT
Bagikan

Tirta dan Nusa dua manusia yang bersahabat sejak kecil. Saat itu mereka sedang beristirahat di sebuah gubug di pinggiran sawah. Di pinggir gubug banyak pohon bambu yang ketinggiannya meneduhi pinggir gubug.

Di balik rimbunan pepohonan bambu yang mungkin sudah hidup ratusan tahun itu, ada sungai kecil yang mengalir. Angin semilir membawa kesegaran ke arah gubug di mana Nusa dan Tirta sedang rehat dari menggarap ladang cabe milik mereka.

Mereka duduk berdua sambil menikmati dua cangkir kopi bewarna hijau daun bambu. Hampir berbarengan mereka mengucap _Alhamdulillah_, dan kemudian Tirta memulai pembicaraan mereka yang sungguh bukan sekedar obrolan ringan.

Tirta: (sambil menyeka keringat tipis di dahi) “Capek juga ya, Nusa, tapi Alhamdulillah kerjaan hari ini kelar.”

Nusa: “Iya, Tirta. Rasanya lega kalau udah selesai pekerjaan, apalagi pas bisa duduk santai begini. Tirta, ingat pengajian Al-Hikam semalam? Tentang hikmah dari Syaikh Ibnu Atha’illah As-Sakandari _rahimahulloh_, yang disampaikan kyai kemarin.”

Tirta: “Wah, betul Nusa! Bingung juga aku memahami bahwa “Salah satu tanda kalau kita bergantung pada amal kita sendiri bukan kepada Allah adalah ketika kita merasa harapan kita berkurang saat berbuat kekhilafan”. Maksudnya gimana ya, Nusa?”

Nusa: “Jadi begini, Tirta. Syaikh Ibnu Athaillah _rohimahulloh_ itu mengingatkan kita agar tidak bergantung pada amal kita sendiri. Soalnya, kalau kita percaya diri dengan amal, kayaknya kita lupa kalau semua itu juga atas izin dan pertolongan Allah. Bukan dari usaha kita semata.”

Tirta: “Hmm, iya, ya. Sama aja kayak tadi di sawah. Hasil panen kan nggak cuma tergantung dari usaha kita. Ada hujan, cuaca, dan banyak faktor lain yang di luar kendali kita.”

Nusa: “Tepat! Syaikh Ibnu Atha’illah _dawuh_, kalau kita hanya bergantung pada amal, kita jadi lupa harapan kepada Allah, lupa kalau kita ditolong Allah dalam aktivitas kita. Tandanya adalah saat kita bikin kesalahan, harapan kita malah langsung turun drastis bahkan putus asa. Padahal, yang penting itu rahmat dan ampunan Allah.”

Tirta: “Iya, ya. Berarti jangan sampai kita merasa sombong atas apa yang udah kita lakukan. Semuanya kan kembali ke Allah yang kasih kemampuan buat kita.”

Nusa: “Betul, Tirta. Bahkan Rasulullah Saw. pun pernah bersabda, “Nggak ada satu pun yang masuk surga karena amalnya, kecuali dengan rahmat Allah.” Jadi, amal kita ibarat benih yang atas pertolongan Allah dapat kita tanam, tapi hasil panennya karena izin Allah dan merupakan anugerah dan ke Maha Bijaksanaan Allah.”

Tirta: “Wah, maknanya dalam juga, ya. Kayak pelajaran penting buat kita di sini. Jangan ngerasa aman cuma karena kita udah kerja keras. Kita tetap harus bergantung sama Allah dan nggak cepat putus asa, apalagi kalau terpeleset dalam kesalahan.”

Nusa: “Betul, Tirta. Jadi, setiap kali kita ingat sama rahmat Allah, kita bakal lebih tenteram menjalani hidup. Jangan cuma ngandalkan kerja atau amal aja, tapi selalu ingat buat minta pertolongan dan rahmat-Nya.”

Tirta: “Jadi ingat kata-kata orang-orang tua, ‘Manusia berusaha Allah yang menentukan.’”

Nusa: “Lengkapnya begini Tirta, Manusia berusaha dengan semaksimal kemampun yang ada, dengan tetap berkeyakinan Allah SWT yang menolong aktivitas tersebut, dan selalu menggantungkan harap kepada Allah karena Allah Maha Bijaksana yang akan menentukan hasilnya.”

Tirta: “Oh iya, (sambil menatap jauh ke sawah di depannya kemudian melanjutkan perkataannya) Iya ya harus detail…karena ternyata lebih tepatnya begitu.”

Nusa tersenyum sambil kembali menyeruput kopinya. Tirta kelihatan termenung dalam. Melihat Tirta merenung dalam tersebut, Nusa berdoa dalam hati “Allohumma nawwir qulubana bi nuuri hidayatika kama nawwartal ardho binuri syamsika abadan abada birahmatika ya Arhamar Rohimin. Amin ya Arhamar Rohimin.”

(Bersambung Insya Allah)

SesudahnyaBiografi Singkat Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy'ari
Tidak ada komentar

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *