OpiniJangan-jangan Shalat Kita Masih berupa Kepeng Palsu
Oleh Muhammad Zaid Su’di*
Belakangan ini saya baru mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang amat penting dari himbauan atau perintah yang dipasang di pintu masuk masjid agar kita mematikan handphone (HP) saat hendak masuk di masjid. Sesuatu itu berhubungan dengan kondisi spiritual saya.
Awalnya saya mengira bahwa peringatan itu hanya untuk mengantisipasi adanya nada dering telepon yang nyelonong di tengah kekhidmatan ibadah. Sebab ada banyak kasus nada panggilan yang mendadak menyalak di tengah-tengah pelaksanaan salat. Dan itu memang terasa mengganggu.
Namun dengan asumsi itu, himbauan agar mematikan handphone saat memasuki masjid terasa berlebihan. Mengapa harus dimatikan, toh bisa disilent? Pikir saya. Sepertinya bukan hanya saya yang berpikiran begitu, sehingga kini bunyi himbauan di banyak masjid sudah berubah, yaitu agar jamaah membisukan suara HP. Nah, begitu. Lebih relevan, pikir lagi lagi.
Tapi, sebuah peristiwa memaksa saya berpikir ulang.
Suatu hari saya membawa HP ke masjid. Volumenya saya nol-kan. Ketika salat, HP saya letakkan di lantai di depan saya. Beberapa orang saya lihat juga melakukan hal yang sama. Di tengah salat, beberapa jamaah yang terdiri dari bocah-bocah tiba-tiba masuk ke tengah shaf. Awalnya mereka hanya saling teriak dari tempat berdirinya, tapi sejurus kemudian mereka mulai beraksi. Mereka berkejaran di sepanjang shaf, dan melesat di depan saya berkali-kali.
Konsentrasi saya buyar. Saya tak lagi sempat menyimak bacaan imam. Hati saya kalut dan pikiran dilanda gelisah, takut jika kaki anak-anak ini akan menginjak HP saya. Maka ketika sujud saya geser posisi HP agar lebih dekat dengan kaki saya.
Pada rakaat-rakaat berikutnya kehebohan tidak kunjung mereda. Bahkan ada momen seorang anak mendadak berhenti di depan saya, duduk, dan agaknya tertarik dengan gambar casing HP saya. Ia memang tidak memegangnya, hanya melihat-lihat saja yang lalu diikuti oleh beberapa temannya. Tapi perbuatan mereka sudah cukup membuat acara salat saya berantakan. Sepanjang salat, kepala saya sibuk mencari cara untuk menjauhkan HP dari jangkauan mereka.
Ternyata meski suara HP sudah tidak mengganggu, keberadaannya masih menjadi pengganggu, setidaknya bagi saya sendiri. Salat yang seharusnya bisa mengingatkan saya kepada Tuhan tidak pernah terjadi. Sujud, rukuk, takbir, iktidal, dan semua gerakan lainnya hanya sesuatu yang mekanis. Hati saya tidak hadir, kecuali untuk mencemaskan keselamatan perangkat komunikasi saya.
Karena itu, saya pikir himbauan mematikan HP itu memang sudah tepat, tidak sekadar membisukan suara. Bahkan kalau boleh lebih ekstrim berupa larangan membawa masuk HP ke dalam masjid, seperti larangan agar siswa tidak membawa HP ke dalam kelas. Toh, kita juga tidak membutuhkannya untuk berkomunikasi dengan Tuhan.
HP yang seharian telah memenuhi kehidupan kita, tetap kita bawa serta ke dalam salat kita yang hanya beberapa menit itu, dan kita biarkan merecoki saat-saat intim kita dengan Tuhan.
Salat jadi dipenuhi kegelisahan jangan-jangan ada pesan atau penggilan mendesak atau ada notifikasi penting yang harus segera kita ketahui. Lalu kita pun buru-buru menyambar HP begitu bacaan salam mengakhiri salat. HP menjadi tabir tebal antara kita dengan Tuhan, bahkan saat di rumah-Nya.
Saya ingat anekdot tentang Kyai Kholil Bangkalan saat masih nyantri. Suatu saat ketika sedang ikut salat berjamaah, ia tiba-tiba tertawa keras sekali. Tentu saja jamaah merasa terganggu. Usai salat, sang imam segera mencari siapa di antara jamaahnya yang telah mengacau. Ia menemukan Kholil muda yang masih tidak bisa menawan tawanya.
Ia menanyakan alasan tindakan Kholil muda. Kholil menjawab bahwa ia melihat berkat di atas kepala sang imam di sepanjang salat. Jawaban itu menyurutkan emosi sang imam. Ia membisu. Sebab ia menyadari bahwa sepanjang salat ia memang tidak bisa khusyuk. Pikirannya sibuk memikirkan acara kenduren yang akan dihadiri dan itu membuat salatnya tergesa-gesa.
Nah, seperti berkat di atas kepala imam yang dilihat oleh Kyai Kholil Bangkalan, jangan-jangan anak-anak yang berlarian di tengah shaf dalam salat itu juga cermin dari kualitas salat kita juga. Bahwa kita masih banyak bermain-main dalam salat kita. Kesadaran kita seolah menjadi serbuk besi yang tersedot ke magnet yang dimiliki HP.
“Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk, maka tetap persembahkan doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan. Sebab Tuhan dalam rahmat-Nya tetap menerima mata uang palsumu,” kata Jalaluddin Rumi.
Kata-kata itu cukup menghibur. Tapi rasanya tidak pantas jika kita terus-terusan menyerahkan kepeng palsu kepada Tuhan sambil terus menutupi kenyataan tentang kekurangan kita. ***
* Penulis: Muhammad Zaid Su’di
Pengurus LTNU MWC NU Berbah Sleman
