Ayyuhal Walad09. Wahai Anakku! Tubuh Ini Ibarat Sangkar Burung atau Kandang Hewan, Renungkan Dirimu!
لُزُومُ تَكْبِيرِ الْهِمَمِ
Menjaga Tinggi Cita-cita
أَيُّهَا الْوَلَدُ، أَجْعَلِ الْهِمَّةَ فِي الرُّوحِ، وَالْهَزِيمَةَ فِي النَّفْسِ، وَالْمَوْتَ فِي الْبَدَنِ، لِأَنَّ مَنْزِلَكَ الْقَبْرُ، وَأَهْلُ الْمَقَابِرِ يَنْتَظِرُونَكَ فِي كُلِّ لَحْظَةٍ مَتَى تَصِلُ إِلَيْهِمْ. إِيَّاكَ ثُمَّ إِيَّاكَ أَنْ تَصِلَ إِلَيْهِمْ بِلَا زَادٍ
Wahai anakku, letakkanlah cita-citamu di dalam ruh, kekalahan di dalam nafsu, dan kematian di dalam tubuhmu, karena tempat tinggalmu adalah kubur. Penghuni kubur menunggumu setiap saat, kapan engkau akan tiba kepada mereka. Waspadalah, jangan sampai engkau mendatangi mereka tanpa bekal.
فَاخْتَرْ لِنَفْسِكَ أَأَعَالِي بُرُوجِ الْجِنَانِ، أَمْ هَاوِيَةَ النَّارِ؟
Pilihlah untuk dirimu sendiri: apakah engkau ingin mencapai menara-menara surga yang tinggi, atau terjatuh ke dalam jurang neraka?
قَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: “هَذِهِ الْأَجْسَادُ: إِمَّا قَفَصُ الطُّيُورِ، أَوْ إِصْطَبْلُ الدَّوَابِّ.”. فَتَفَكَّرْ فِي نَفْسِكَ، مِنْ أَيِّهِمَا أَنْتَ؟! إِنْ كُنْتَ مِنَ الطُّيُورِ الْعُلْوِيَّةِ، فَحِينَ تَسْمَعُ طَنِينَ طَبْلٍ: ﴿ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ﴾، تَطِيرُ صَاعِدًا إِلَى أَنْ تَقْعُدَ فِي أَعَالِي بُرُوجِ الْجِنَانِ، كَمَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “اهْتَزَّ عَرْشُ الرَّحْمَنِ لِمَوْتِ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ” (١)
Abu Bakar ash-Shiddiq ra. berkata, “Tubuh ini ibarat sangkar burung atau kandang hewan ternak.” Maka renungkanlah dirimu sendiri, dari golongan yang manakah engkau? Jika engkau termasuk burung yang tinggi (jiwanya), maka ketika engkau mendengar bunyi gendang yang memanggil, “Kembalilah kepada Tuhanmu,” engkau akan terbang naik menuju tempat tertinggi di surga. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda: “Arsy ar-Rahman bergetar karena wafatnya Sa’d bin Mu’adz.” (1)
وَالْعِيَاذُ بِاللهِ تَعَالَى إِنْ كُنْتَ مِنَ الدَّوَابِّ، كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ﴾، فَلَا تَأْمَنْ انْتِقَالَكَ مِنْ زَاوِيَةِ الدَّارِ إِلَى هَاوِيَةِ النَّارِ
Namun, na’udzubillah, jika engkau termasuk golongan hewan ternak, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat.” (QS. Al-A’raf: 179), maka jangan merasa aman bahwa perpindahanmu dari sudut rumah akan berakhir di jurang neraka.
وَرُوِيَ أَنَّ الْحَسَنَ الْبَصْرِيَّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أُعْطِيَ شَرْبَةً مِنْ مَاءٍ بَارِدٍ، فَلَمَّا أَخَذَ الْقَدَحَ غُشِيَ عَلَيْهِ، وَسَقَطَ مِنْ يَدِهِ. فَلَمَّا أَفَاقَ، قِيلَ لَهُ: مَا لَكَ يَا أَبَا سَعِيدٍ؟! قَالَ: “ذَكَرْتُ أُمْنِيَّةَ أَهْلِ النَّارِ حِينَ يَقُولُونَ لِأَهْلِ الْجَنَّةِ: ﴿أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ﴾” (٢)
Diriwayatkan bahwa al-Hasan al-Bashri ra. pernah diberikan segelas air dingin. Saat beliau memegang cangkir itu, ia pingsan, dan cangkir itu jatuh dari tangannya. Ketika ia sadar, ditanyakan kepadanya, “Apa yang terjadi padamu, wahai Abu Sa’id?” Beliau menjawab, “Aku teringat akan keinginan para penghuni neraka ketika mereka berkata kepada penghuni surga: ‘Tuangkanlah kepada kami sedikit air atau sesuatu dari apa yang telah Allah berikan kepadamu.’” (QS. Al-A’raf: 50)
—
1. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari (3803) dan Imam Muslim (2466) dari Jabir ra.
2. Mengutip QS Al-A’raf [7]:50. Tafsir tentang permintaan penghuni neraka kepada penghuni surga.
