Ayyuhal Walad04. Wahai Anakku! Ilmu Tanpa Amal Ibarat Pedang Tanpa Tangan
أَيُّهَا الْوَلَدُ، لَا تَكُنْ مِنَ الْأَعْمَالِ مُفْلِسًا، وَمِنَ الْأَحْوَالِ خَالِيًا، وَتَيَقَّنْ أَنَّ الْعِلْمَ الْمُجَرَّدَ لَا يَأْخُذُ بِيَدِكَ
“Wahai anakku, janganlah menjadi orang yang bangkrut dalam amal dan kosong dari keadaan spiritual, serta yakinkanlah dirimu bahwa ilmu yang tidak diamalkan tidak akan bermanfaat bagimu.
وَوُجُوبُ الْعَمَلِ بِالْعِلْمِ مِثَالُهُ: لَوْ كَانَ عَلَى رَجُلٍ فِي بَرِّيَّةٍ عَشَرَةُ أَسْيَافٍ هِنْدِيَّةٍ مَعَ أَسْلِحَةٍ أُخْرَى، وَكَانَ الرَّجُلُ شُجَاعًا وَأَهْلَ حَرْبٍ، فَحَمَلَ عَلَيْهِ أَسَدٌ مَهِيبٌ، مَا ظَنُّكَ؟ هَلْ تَدْفَعُ الْأَسْلِحَةُ شَرَّهُ مِنْهُ بِلَا اسْتِعْمَالِهَا وَضَرْبِهَا؟
Kewajiban mengamalkan ilmu diumpamakan sebagai berikut: misalnya ada seorang lelaki di padang luas yang memiliki sepuluh pedang India beserta senjata lainnya, dan lelaki itu pemberani serta berpengalaman dalam perang. Lalu, seekor singa yang menakutkan menyerangnya, menurutmu apakah senjata-senjata tersebut akan mampu menghalangi singa itu tanpa digunakannya?
كَذَلِكَ الْعِلْمُ بِلَا عَمَلٍ كَالسَّيْفِ بِلَا يَدٍ؛ فَإِنَّهُ لَا يَدْفَعُ إِلَّا بِالتَّحْرِيكِ وَالضَّرْبِ. كَذَلِكَ لَوْ قَرَأَ رَجُلٌ مِائَةَ أَلْفِ مَسْأَلَةٍ عِلْمِيَّةٍ وَعَلَّمَهَا وَتَعَلَّمَهَا وَلَمْ يَعْمَلْ بِهَا، فَإِنَّهَا لَا تَفِيدُهُ إِلَّا بِالْعَمَلِ
Begitu pula ilmu tanpa amal ibarat pedang tanpa tangan; ia tidak akan bisa menolak (bahaya) kecuali dengan digerakkan dan digunakan. Demikian juga, seandainya seseorang membaca seratus ribu masalah ilmu, mengajarkannya, serta mempelajarinya, tetapi tidak mengamalkannya, maka hal itu tidak akan berguna baginya kecuali dengan diamalkan.
.وَمِثَالُهُ: لَوْ كَانَ لِرَجُلٍ حَرَارَةٌ وَمَرَضُ صَفْرَاوِيٍّ، فَيَكُونُ عِلَاجُهُ بِالسَّكَنْجَبِينِ وَالْكَشْكَابِ، فَلَا يَحْصُلُ الْبُرْءُ إِلَّا بِاسْتِعْمَالِهِمَا
:وَقَالَ الشَّاعِرُ الْفَارِسِيُّ
كَرْ مَيْ دُو هَزَارِ رِطْلِ بَيْمَابِي تَامَيْ نَخُورِي نَبَاشَدَتْ شَيْدَابِي
.(حَاصِلُ مَعْنَاهُ: إِنْ كِلْتَ أَلْفَيْ رِطْلٍ خَمْرًا، لَا تَكُونُ سَكْرَانَ وَمَجْنُونًا مَا لَمْ تَشْرَبْهَا)
Contohnya: jika seseorang memiliki demam dan penyakit kuning, maka obatnya adalah dengan sirup cuka dan pengobatan lainnya, tetapi ia tidak akan sembuh kecuali dengan menggunakannya.
Seorang penyair Persia berkata: “Jika engkau menakar dua ribu ritl khamar, engkau tidak akan mabuk dan gila selama engkau belum meminumnya.”
(Maknanya: Meski engkau menakar seribu dua ratus ritl khamar, engkau tidak akan mabuk dan kehilangan akal hingga engkau meminumnya).
:وَلَوْ قَرَأْتَ الْعِلْمَ مِائَةَ سَنَةٍ، وَجَمَعْتَ أَلْفَ كِتَابٍ، لَا تَكُونُ مُسْتَعِدًّا لِرَحْمَةِ اللهِ تَعَالَى إِلَّا بِالْعَمَلِ؛ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَال
(وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى)
Maka, jika kamu mempelajari ilmu selama seratus tahun dan mengumpulkan seribu kitab, kamu tidak akan siap untuk menerima rahmat Allah kecuali dengan amal, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Dan bahwa manusia hanya mendapatkan apa yang diusahakannya.”
فَمَنْ قَالَ: “إِنَّ هَذِهِ الْآيَةَ مَنْسُوخَةٌ بِقَوْلِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ: إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ…” الْحَدِيثَ. فَالْمَنْسُوخُ هُوَ هَذَا الْقَائِلُ
Barang siapa yang mengatakan bahwa ayat ini telah dihapus oleh sabda Rasulullah, “Jika anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara…”, maka yang dihapus adalah orang yang berkata demikian.
:وَلَئِنْ كَانَتْ مَنْسُوخَةً، فَمَا تَقُولُ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى
(فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا)
Dan jika benar bahwa ayat tersebut telah dihapus, lalu bagaimana kamu menjelaskan firman Allah Ta’ala:
“Barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih”,
(جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ)
“Sebagai balasan dari apa yang telah mereka kerjakan”,
(جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ)
“Sebagai balasan dari apa yang telah mereka usahakan”,
(إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka surga Firdaus sebagai tempat tinggal”,
(إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا)
“Kecuali orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal shalih”?
وَمَا تَقُولُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ: “بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا”؟ (١)
Dan apa yang akan kamu katakan mengenai hadits ini: “Islam dibangun atas lima perkara: kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, puasa Ramadhan, dan haji bagi yang mampu melaksanakannya”?
وَالْإِيمَانُ: قَوْلٌ بِاللِّسَانِ، وَتَصْدِيقٌ بِالْجَنَانِ، وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ. وَدَلِيلُ الْأَعْمَالِ أَكْثَرُ مِنْ أَنْ يُحْصَى، وَإِنْ كَانَ الْعَبْدُ يَبْلُغُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ اللهِ وَكَرَمِهِ، وَلَكِنْ بَعْدَ أَنْ يَسْتَعِدَّ بِطَاعَتِهِ وَعِبَادَتِهِ؛
Iman adalah perkataan dengan lisan, pembenaran dengan hati, dan amal dengan anggota tubuh. Bukti atas kewajiban amal sangatlah banyak, dan seorang hamba mencapai surga dengan keutamaan dan kemurahan Allah, tetapi setelah ia menyiapkan dirinya dengan ketaatan dan ibadahnya;
لِأَنَّ رَحْمَةَ اللهِ قَرِيبَةٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ. وَلَوْ قِيلَ: يَبْلُغُ أَيْضًا بِمُجَرَّدِ الإِيمَانِ، لَقُلْنَا: نَعَمْ؛ وَلَكِنْ مَتَى يَبْلُغُ؟ كَمْ مِنْ عَقَبَةٍ كَؤُودٍ تَسْتَقْبِلُهُ؟
karena rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat kebaikan. Jika dikatakan bahwa ia dapat mencapainya hanya dengan iman, kami akan berkata, ‘Ya, tetapi kapan ia akan mencapainya?’ Betapa banyak rintangan yang akan ia hadapi?
أَوَّلُ تِلْكَ الْعَقَبَاتِ: عَقَبَةُ الإِيمَانِ؛ أَنَّهُ هَلْ يَسْلَمُ مِنَ السَّلْبِ، أَمْ لَا؟ وَإِذَا وَصَلَ، يَكُونُ جَاهِلًا مُفْلِسًا (٢)
وَقَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ رَحِمَهُ اللهُ: “يَقُولُ اللهُ تَعَالَى لِعِبَادِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِي، وَاقْتَسِمُوهَا بِقَدْرِ أَعْمَالِكُمْ” (٣).
Rintangan pertama adalah ujian iman: apakah ia akan selamat dari hilangnya iman atau tidak? Dan jika ia selamat, ia akan berada dalam keadaan bodoh dan bangkrut.
Al-Hasan Al-Bashri berkata, ‘Allah Ta’ala berfirman kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat: “Masuklah kalian ke dalam surga dengan rahmat-Ku, dan bagilah surga itu sesuai kadar amal kalian.”
—
Catatan:
- Hadits tentang rukun Islam diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar (semoga Allah meridainya).
- Mengacu pada penjelasan bahwa meskipun seseorang mungkin bisa masuk surga dengan iman saja, namun tetap membutuhkan kesiapan amal sebagai bekal.
- Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri (semoga Allah merahmatinya), bahwa ia menggambarkan pahala di surga sebagai hasil dari rahmat Allah dan amal seseorang.
