Ayyuhal Walad03. Wahai Anakku! Ungkapan Lenyap, Isyarat Hilang, yang Bermanfaat Hanyalah Beberapa Rakaat
أَيُّهَا الْوَلَدُ، الْعِلْمُ عَمَلٌ وَلَيْسَ النَّصِيحَةُ سَهْلَةً، وَالْمُشْكِلُ قَبُولُهَا؛ لِأَنَّهَا فِي مَذَاقِ مُتَّبِعِي الْهَوَى مُرَّةٌ، إِذِ الْمَنَاهِي مَحْبُوبَةٌ فِي قُلُوبِهِمْ، عَلَى الْخُصُوصِ مَنْ كَانَ طَالِبَ الْعِلْمِ الرَّسْمِيِّ، مُشْتَغِلًا بِفَضْلِ النَّفْسِ وَمَنَاقِبِ الدُّنْيَا؛
Wahai Anakku, ilmu adalah amal, dan nasihat bukanlah hal yang mudah. Kesulitan sebenarnya adalah menerimanya, karena bagi mereka yang mengikuti hawa nafsu, nasihat terasa pahit. Ini disebabkan larangan-larangan syariat bertentangan dengan keinginan mereka, terutama bagi orang yang menuntut ilmu formal yang sibuk dengan kebanggaan diri dan kedudukan duniawi.
فَإِنَّهُ يَحْسَبُ أَنَّ الْعِلْمَ الْمُجَرَّدَ لَهُ وَسِيلَةٌ، سَيَكُونُ نَجَاتُهُ وَخَلَاصُهُ فِيهِ، وَأَنَّهُ مُسْتَغْنٍ عَنِ الْعَمَلِ، وَهَذَا اعْتِقَادُ الْفَلَاسِفَةِ. حُجَّةُ اللَّهِ عَلَيْهِ أَكْبَرُ! سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ! لَا يَعْلَمُ هَذَا الْقَدْرَ أَنَّهُ حِينَ حَصَّلَ الْعِلْمَ وَتَرَكَ الْعَمَلَ، إِذَا لَمْ يَعْمَلْ بِهِ… تَكُونُ الْحُجَّةُ عَلَيْهِ أَكْبَرَ؛ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ… عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ اللَّهُ بِعِلْمِهِ. (١)
Mereka mengira bahwa ilmu saja sudah menjadi sarana keselamatan dan kebebasan bagi mereka, dan mereka merasa tidak butuh amal. Inilah keyakinan para filsuf. Sungguh, hujjah Allah atas diri mereka akan semakin berat! Mahasuci Allah yang Mahaagung! Mereka tidak menyadari bahwa dengan memperoleh ilmu dan meninggalkan amal, mereka justru akan semakin diberatkan dengan ilmu itu, seperti sabda Rasulullah ﷺ: “Manusia yang paling berat siksanya kelak di hari kiamat adalah seorang alim yang mana Allah tidak memberi manfaat pada ilmunya.” (1)
وَرُوِيَ أَنَّ جُنَيْدًا قَدَّسَ اللَّهُ رُوحَهُ الْعَزِيزَ، رُئِيَ فِي الْمَنَامِ بَعْدَ وَفَاتِهِ، فَقِيلَ لَهُ: مَا الْخَبَرُ يَا أَبَا الْقَاسِمِ؟ قَالَ: طَاحَتِ الْعِبَارَاتُ، وَفَنِيَتِ الْإِشَارَاتُ، وَمَا نَفَعَتْنَا إِلَّا رَكَعَاتٌ رَكَعْنَاهَا فِي جَوْفِ اللَّيْلِ. (٢)
Diriwayatkan bahwa Syaikh Junaid – semoga Allah menyucikan ruhnya yang mulia – terlihat dalam mimpi setelah wafatnya. Seseorang bertanya kepadanya, “Apa kabar, wahai Abu al-Qasim (Syaikh Junaid)?” Ia menjawab, “Ungkapan-ungkapan telah lenyap, isyarat-isyarat telah hilang, dan yang bermanfaat bagi kami hanyalah beberapa rakaat yang kami kerjakan di tengah malam.” (2)
—
Referensi Hadits:
1. Diriwayatkan oleh Ad-Dinuri dalam Al-Mujalasah wa Jawahir al-Ilm (90), Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (1642), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (307/5) dari Sayyidina Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
2. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (3256), Al-Khatib dalam Tarikh Baghdad (256/7), dan Abu Nu’aim dalam Hilyat al-Awliya (10/257), dengan lafaz yang hampir serupa. Periwayat mimpinya adalah Ja’far bin Muhammad al-Khuldi.
