Ayyuhal Walad13. Wahai Anakku! Tidak Akan Hidup Hatimu dengan Cahaya Makrifat dan Dzikir Sampai Mati Nafsumu
أَيُّهَا الْوَلَدُ خُلاَصَةُ الْعِلْمِ: أَنْ تَعْلَمَ أَنَّ الطَّاعَةَ وَالْعِبَادَةَ مَا هِيَ. فَاعْلَمْ: أَنَّ الطَّاعَةَ وَالْعِبَادَةَ مُتَابَعَةُ الشَّارِعِ فِي الأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي، بِالْقَوْلِ وَالْفِعْلِ؛ يَعْنِي: كُلُّ مَا تَقُولُ وَتَفْعَلُ وَتَتْرُكُ قَوْلَهُ وَفِعْلَهُ يَكُونُ بِاقْتِدَاءِ الشَّرْعِ؛ كَمَا لَوْ صُمْتَ يَوْمَيْ الْعِيدِ وَأَيَّامَ التَّشْرِيقِ تَكُونُ عَاصِيًا، أَوْ صَلَّيْتَ فِي ثَوْبٍ مَغْصُوبٍ (١) وَإِنْ كَانَتْ صُورَتُهُ عِبَادَةً تَأْثَمُ.
Wahai anakku, inti dari ilmu adalah agar engkau memahami apa itu ketaatan dan ibadah. Maka ketahuilah, bahwa ketaatan dan ibadah adalah mengikuti petunjuk syariat dalam segala perintah dan larangan, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Artinya, setiap ucapan dan perbuatanmu, serta apa yang engkau tinggalkan, hendaknya selaras dengan syariat. Misalnya, jika engkau berpuasa pada hari raya atau pada hari-hari tasyriq, engkau akan berdosa. Atau jika engkau salat dengan mengenakan pakaian yang haram (1), misalnya pakaian hasil rampasan atau pakaian sutra bagi laki-laki, meskipun bentuknya adalah ibadah, tetapi engkau tetap berdosa.
أَيُّهَا الْوَلَدُ، فَيَنْبَغِي لَكَ أَنْ يَكُونَ قَوْلُكَ وَفِعْلُكَ مُوَافِقًا لِلشَّرْعِ؛ إِذِ الْعِلْمُ بِدُونِ اقْتِدَاءِ الشَّرْعِ ضَلَالَةٌ، وَالْعَمَلُ بِدُونِ اقْتِدَاءِ الشَّرْعِ ضَلَالَةٌ. وَيَنْبَغِي لَكَ أَلَّا تَغْتَرَّ بِشَطْحِ وَطَامَّاتِ الصُّوفِيَّةِ؛ لأَنَّ سُلُوكَ طَرِيقِ الْعِبَادَةِ يَكُونُ بِالْمُجَاهَدَةِ، وَقَطْعِ شَهْوَةِ النَّفْسِ وَقَتْلِ هَوَاهَا بِسَيْفِ الرِّيَاضَةِ، لَا بِالطَّامَّاتِ وَالتُّرَّهَاتِ. **وَاعْلَمْ**: أَنَّ اللِّسَانَ الْمُطْلَقَ، وَالْقَلْبَ الْمُطْبَقَ الْمَمْلُوءَ بِالْغَفْلَةِ عَلَامَةُ الشَّقَاوَةِ؛ حَتَّى لَا تَقْتُلَ نَفْسَكَ بِصِدْقِ الْمُجَاهَدَةِ، لَنْ تُحْيِيَ قَلْبَكَ بِأَنْوَارِ الْمَعْرِفَةِ. (٢
Wahai anakku, hendaknya ucapan dan perbuatanmu sesuai dengan syariat; sebab ilmu tanpa mengikuti syariat adalah kesesatan, dan amal tanpa tuntunan syariat juga kesesatan. Jangan sampai engkau tertipu oleh perkataan atau anggapan-anggapan kaum sufi yang berlebihan, karena menempuh jalan ibadah haruslah dengan perjuangan, menahan keinginan hawa nafsu, serta mengendalikannya dengan latihan spiritual, bukan dengan anggapan-anggapan yang berlebihan dan tak masuk akal.
Dan ketahuilah, lisan yang dibiarkan lepas dan hati yang dipenuhi dengan kelalaian adalah tanda keburukan. Sampai engkau benar-benar dapat “membunuh” hawa nafsumu dengan perjuangan yang tulus, engkau tidak akan menghidupkan hatimu dengan cahaya makrifat. (2)
—
(1) Dalam beberapa versi teks, terdapat tambahan: “atau dengan pakaian yang haram dikenakan seperti sutra bagi laki-laki.”
(2) Artinya, engkau tidak akan membuat hatimu hidup dengan cahaya makrifat Allah dan dzikir kepada-Nya sampai engkau membunuh hawa nafsumu melalui perjuangan yang tulus; jika tidak, maka hatimu tidak akan hidup dengan cahaya makrifat. Perhatikan ini baik-baik.
Tidak ada komentar
