Ayyuhal Walad12. Wahai Anakku! Air Mata adalah Tanda Cinta
أَيُّهَا الْوَلَدُ، رُئِيَ فِي وَصَايَا لُقْمَانَ الْحَكِيمِ لِابْنِهِ أَنَّهُ قَالَ: **يَا بُنَيَّ، لَا يَكُونَنَّ الدِّيكُ أَكْيَسَ مِنْكَ، يُنَادِي بِالْأَسْحَارِ وَأَنْتَ نَائِمٌ (١)
Wahai Anakku,
Diriwayatkan dalam nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya bahwa ia berkata:
“Wahai anakku, janganlah sampai ayam jantan lebih cerdas darimu; ia berkokok di waktu sahur sedangkan engkau tertidur.” (1)
وَلَقَدْ أَحْسَنَ مَنْ قَالَ(٢)
لَقَدْ هَتَفَتْ فِي جُنْحِ لَيْلٍ حَمَامَةٌ * عَلَى فَنَنٍ وَهْنًا وَإِنِّي لَنَائِمُ
كَذَبْتُ وَبَيْتِ اللهِ لَوْ كُنْتُ عَاشِقًا * لَمَا سَبَقَتْنِي بِالْبُكَاءِ الْحَمَائِمُ
أَزْعُمُ أَنِّي هَائِمٌ ذُو صَبَابَةٍ * لِرَبِّي وَلَا أَبْكِي وَتَبْكِي الْبَهَائِمُ
[ من الطويل ]
Sungguh baik apa yang dikatakan oleh seseorang: (penyair) (2)
“Di tengah malam, seekor merpati bernyanyi di atas ranting dengan rintihan, sedangkan aku tertidur.
Demi Allah, aku berdusta, andai aku benar-benar mencintai-Nya, pasti tangisanku tidak akan kalah dari tangisan burung-burung.
Aku mengaku bahwa aku seorang pecinta yang merindu kepada Tuhanku, namun aku tidak menangis, sementara binatang pun menangis.”
[bahr Thawiil]
—
Catatan Kaki:
(1) Diriwayatkan oleh Abdul Razzaq dalam Al-Musannaf (19539), dan Al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman (5306).
(2) Syair ini berasal dari “Majnun Laila” dalam Diwan-nya (hlm. 238).
Tidak ada komentar
