• Website Resmi MWC NU Kapanewon Berbah
Rabu Pahing, 02 September 2026
Waktu Sholat di

Ayyuhal Walad
19. Wahai Anakku! Adab Seorang Salik kepada Guru Pembimbingnya (Mursyid)

19. Wahai Anakku! Adab Seorang Salik kepada Guru Pembimbingnya (Mursyid)
Bagikan

أدبُ السالكِ معَ المُرَبِّي

فَيَنبَغِي أَنْ يَحْتَرِمَهُ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا.
أَمَّا احْتِرَامُ الظَّاهِرِ: فَهُوَ أَلَّا يُجَادِلَهُ، وَلَا يَشْتَغِلَ بِالِاحْتِجَاجِ مَعَهُ فِي كُلِّ مَسْأَلَةٍ وَإِنْ عَلِمَ خَطَأَهُ، وَلَا يُلْقِيَ بَيْنَ يَدَيْهِ سَجَّادَتَهُ إِلَّا فِي وَقْتِ أَدَاءِ الصَّلَاةِ، فَإِذَا فَرَغَ يَرْفَعُهَا، وَلَا يُكْثِرَ نَوَافِلَ الصَّلَاةِ بِحَضْرَتِهِ، وَيَعْمَلَ مَا يَأْمُرُهُ بِهِ الشَّيْخُ مِنَ العَمَلِ بِقَدْرِ وُسْعِهِ وَطَاقَتِهِ.

Adab Seorang Salik kepada Guru Pembimbingnya
Hendaknya seorang salik (penempuh jalan spiritual) menghormati gurunya, baik secara lahir maupun batin.

Adab secara lahir adalah:

  1. Tidak membantahnya.

  2. Tidak sibuk berdebat dalam setiap masalah, meskipun mengetahui gurunya keliru.

  3. Tidak meletakkan sajadah di hadapan gurunya kecuali pada waktu salat. Setelah selesai salat, sajadah tersebut harus diangkat.

  4. Tidak terlalu banyak melaksanakan salat sunnah di hadapan gurunya.

  5. Melaksanakan perintah gurunya sesuai dengan kemampuan dan kesanggupannya.

وَأَمَّا احْتِرَامُ البَاطِنِ: فَهُوَ أَنَّ كُلَّ مَا يَسْمَعُ مِنَ الشَّيْخِ وَيَقْبَلُ مِنْهُ فِي الظَّاهِرِ لَا يُنْكِرُهُ فِي البَاطِنِ، لَا فِعْلًا وَلَا قَوْلًا، لِئَلَّا يَتَّصِفَ بِالنِّفَاقِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ يَتْرُكْ صُحْبَتَهُ حَتَّى يُوَافِقَ بَاطِنُهُ ظَاهِرَهُ.

Adab secara batin adalah:

  1. Setiap yang didengar dari guru dan diterima secara lahiriah, tidak diingkari dalam hati, baik melalui ucapan maupun perbuatan, agar tidak dianggap munafik.

  2. Jika tidak mampu menyelaraskan antara lahir dan batin, lebih baik meninggalkan gurunya hingga hati dan perbuatannya dapat selaras.

وَأَنْ يَحْتَرِزَ عَنْ مُجَالَسَةِ صَاحِبِ السُّوءِ؛ لِيَقْصُرَ وِلَايَةَ شَيَاطِينِ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ مِنْ صَحْنِ قَلْبِهِ، فَيُصَفِّيَ مِنْ لَوْثِ الشَّيْطَنَةِ.

Seorang salik juga harus menghindari pergaulan dengan teman yang buruk. Sebab teman yang buruk akan mengotori hati, seperti kotoran yang melekat pada bejana. Dengan menjauhi pergaulan buruk, salik dapat menjaga hatinya dari dominasi setan, baik dari kalangan jin maupun manusia.

Sebelumnya18. Wahai Anakku! Ini Adalah Syarat dan Tanda Guru Mursyid Pembimbing Jalan Menuju AllahSesudahnya20. Imam Ghazali Memberi Nasehat, "Wahai Anakku! Begini Akhlak Sufi Sejati"
Tidak ada komentar

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *